“So which of the favors of your Lord would you deny?” – (Noble Qur'an - Surat Ar-Rahman 55:19-21)

The Death

The Death

Sebuah kata yang terdengar mengerikan, mungkin. Ya, mungkin bagi sebagian orang. Termasuk saya. masih terngiang di telinga, ketika diberitahu tentang menginggalnya sahabat kami, Julia. Begitu menusuk, begitu ngilu di uluh hati. Masih segar di ingatan saya ketika saya bertanya, “Julia, udah sembuh?” waktu itu dengan rona bahagia di wajah saya, melihat sahabat kami datang ke kampus untuk ujian tengah semester waktu itu. Waktu itu, belum lama. Kabar terakhir yang kami dengar adalah Julia dalam keadaan koma, kamis sore 21 November 2013. Kabar yang membuat kami terdiam membisu,  sahabat kami dalam keadaan koma. Dikabarkan pembuluh darah di otaknya pecah. Ini hal yang paing mengagetkan, pikiran saya waktu itu, bagaimana dia bisa bertahan kalau pembuluh darahnya pecah terlebih ini di otak? . tidak saya tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk, saya berdoa agar julia sembuh, dan terbangun dari tidurnya. Jum’at 22 November 2013, selesai sholat dzuhur waktu itu, kami mendengar kabar buruk, yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumya, Julia meninggal.  Sahabat kami meninggal di usia 21 tahun.


Usia. Kematian. Poin pentingnya di sini. Hidup dan mati. Di dalamnya terkandung sebuah kata, Rahasia. Tidak, tidak ada satu pun orang yang tahu kapan dia meninggal. Ini rahasia Illah, yang kita lakukan sekarang adalah berjalan, berjalan menuju kematian. Tidak bisa dipungkiri semua orang sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Caranya kita sampai di sana tentu saja berbeda, dan Allah mempunyai kehendak untuk itu, bahkan dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelunya bisa terjadi, Allah bisa. Sahabat kami mungkin bisa menjadi contoh bahwa kematian datang tanpa bisa diduga, mungkin masih menjadi misteri, kenapa meninggalnya? Kok bisa? Jawabannya tentu bisa, ketika Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi. Ini sudah ketentuan Allah, yang kita bisa lakukan sekarang adalah mengikhlaskan. Allah mungkin mengambil Julia dari kami karena Allah sayang Julia, dan Dia ingin cepat-cepat mengambil kepunyaanNya.
Hari itu terasa ironis, siang itu terasa sangat cerah, tidak ada air hujan yang biasanya membasahi bogor. Tapi kami berderai air mata, suasana mendung, hari itu biologi 48 berkabung. Saya jadi teringat  tulisan teman saya di blognya tentang hal yang sama. Ketika saya meninggal suatu hari nanti, akankah ada orang yang rela mengeluarkan air matanya karena sedih? Akan ada berapa banyak orang yang akan mendoakan saya, Sholat Gaib berjamaah?, akan ada berapa banyak orang yang ikut ke pemakaman saya? akan ada berapa banyak orang yang kehilangan saya? atau adakah orang yang tertawa karena kepergian saya? hal-hal seperti ini, kadang mengganggu pikiran saya, di samping apa yang akan saya bawa ketika saya  meninggal. Hari ini saya teringat, berapa orang yang saya beri senyuman? Atau berapa orang hari ini yang saya sakiti hatinya? Apa yang akan mereka lakukan  ketika saya meninggal? Menangiskah? Atau tertawa?
Sekali lagi, hidup ini tentang mati. Tentang apa yang akan kita bawa ketika kematian itu datang. Tentang berapa banyak orang yang menangis ketika kematian itu menjemput kita. Tentang berapa banyak orang yang tertawa ketika hari itu datang. Rahasia Allah. Yang bisa kita lakukan sekarang tentu saja berbuat baik, berbuat baik kepada orang lain, manusia. Berbuat kepada diri sendiri. Berbuat baik kepada Allah dengan menjauhi segala larangannya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya, hanya itu.


Wallahu A’lam Bisshowaab.



Comments

Popular Posts