The Death
The Death
Sebuah kata yang terdengar
mengerikan, mungkin. Ya, mungkin bagi sebagian orang. Termasuk saya. masih
terngiang di telinga, ketika diberitahu tentang menginggalnya sahabat kami,
Julia. Begitu menusuk, begitu ngilu di uluh hati. Masih segar di ingatan saya ketika
saya bertanya, “Julia, udah sembuh?” waktu itu dengan rona bahagia di wajah
saya, melihat sahabat kami datang ke kampus untuk ujian tengah semester waktu
itu. Waktu itu, belum lama. Kabar terakhir yang kami dengar adalah Julia dalam
keadaan koma, kamis sore 21 November 2013. Kabar yang membuat kami terdiam
membisu, sahabat kami dalam keadaan
koma. Dikabarkan pembuluh darah di otaknya pecah. Ini hal yang paing
mengagetkan, pikiran saya waktu itu, bagaimana dia bisa bertahan kalau
pembuluh darahnya pecah terlebih ini di otak? . tidak saya tidak ingin
memikirkan kemungkinan terburuk, saya berdoa agar julia sembuh, dan terbangun
dari tidurnya. Jum’at 22 November 2013, selesai sholat dzuhur waktu itu, kami
mendengar kabar buruk, yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumya, Julia
meninggal. Sahabat kami meninggal di
usia 21 tahun.
Usia. Kematian. Poin pentingnya
di sini. Hidup dan mati. Di dalamnya terkandung sebuah kata, Rahasia.
Tidak, tidak ada satu pun orang yang tahu kapan dia meninggal. Ini rahasia Illah,
yang kita lakukan sekarang adalah berjalan, berjalan menuju kematian. Tidak
bisa dipungkiri semua orang sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Caranya
kita sampai di sana tentu saja berbeda, dan Allah mempunyai kehendak untuk itu,
bahkan dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelunya bisa terjadi,
Allah bisa. Sahabat kami mungkin bisa menjadi contoh bahwa kematian datang
tanpa bisa diduga, mungkin masih menjadi misteri, kenapa meninggalnya? Kok
bisa? Jawabannya tentu bisa, ketika Allah sudah berkehendak apapun bisa
terjadi. Ini sudah ketentuan Allah, yang kita bisa lakukan sekarang adalah
mengikhlaskan. Allah mungkin mengambil Julia dari kami karena Allah sayang
Julia, dan Dia ingin cepat-cepat mengambil kepunyaanNya.
Hari itu terasa ironis, siang itu
terasa sangat cerah, tidak ada air hujan yang biasanya membasahi bogor. Tapi
kami berderai air mata, suasana mendung, hari itu biologi 48 berkabung. Saya
jadi teringat tulisan teman saya di blognya tentang hal yang sama. Ketika saya meninggal
suatu hari nanti, akankah ada orang yang rela mengeluarkan air matanya karena
sedih? Akan ada berapa banyak orang yang akan mendoakan saya, Sholat Gaib
berjamaah?, akan ada berapa banyak orang yang ikut ke pemakaman saya? akan ada
berapa banyak orang yang kehilangan saya? atau adakah orang yang tertawa karena
kepergian saya? hal-hal seperti ini, kadang mengganggu pikiran saya, di samping
apa yang akan saya bawa ketika saya
meninggal. Hari ini saya teringat, berapa orang yang saya beri senyuman?
Atau berapa orang hari ini yang saya sakiti hatinya? Apa yang akan mereka
lakukan ketika saya meninggal?
Menangiskah? Atau tertawa?
Sekali lagi, hidup ini tentang mati. Tentang
apa yang akan kita bawa ketika kematian itu datang. Tentang berapa banyak orang
yang menangis ketika kematian itu menjemput kita. Tentang berapa banyak orang
yang tertawa ketika hari itu datang. Rahasia Allah. Yang bisa kita lakukan
sekarang tentu saja berbuat baik, berbuat baik kepada orang lain, manusia.
Berbuat kepada diri sendiri. Berbuat baik kepada Allah dengan menjauhi segala
larangannya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya, hanya itu.
Wallahu A’lam Bisshowaab.
Comments
Post a Comment